BYD Tambah Lagi Pabrik di Luar Tiongkok

Aumobile – BYD mengonfirmasi pembangunan fasilitas produksi setelah menandatangani surat pembelian tanah dengan pemerintah kota Szeged, Hongaria.

Fasilitas produksi di Hongaria akan disebut sebagai Pabrik Mobil Penumpang BYD.

Baca juga: Test drive BYD Auto 3 Jakarta – Bandung Tembus Dago

Penandatanganan ini menjadi tonggak penting bagi eksistensi BYD di pasar Eropa.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh orang-orang penting seperti Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Hongaria Peter Szijjarto; László Botka, Walikota Szeged; Duta Besar Tiongkok untuk Hongaria Gong Tao; dan Wang Chuanfu, ketua dan presiden BYD.

Baca juga: BYD Indonesia berkomitmen mendorong penggunaan komponen lokal

Seperti yang dikatakan Szijjarto, investasi BYD di negara tersebut merupakan yang terbesar dan terpenting dalam sejarah Hongaria.

Ia juga menekankan bahwa pembangunan pabrik mobil penumpang NEV Eropa pertama BYD di Hongaria tidak hanya akan memperkuat posisi ekonomi negara tersebut, tetapi juga memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan memperkuat posisinya dalam peningkatan transisi kendaraan listrik global.

Baca juga: Ekspansi Perdana, BYD Siap Operasikan 50 Diler di Indonesia

Baik pemerintah pusat maupun daerah di Hongaria telah memberikan dukungan luas untuk memfasilitasi dimulainya kegiatan proyek secara cepat.

BYD bertujuan untuk mempercepat pengembangan produk dengan karakteristik merek lokal Eropa melalui produksi lokal, yang akan mendorong pertukaran komersial yang lebih erat dan kerja sama yang saling melengkapi dengan Eropa.

Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendorong transformasi industri yang ramah lingkungan dan rendah karbon serta pembangunan berkelanjutan global.

Saat ini, BYD merencanakan empat belas basis produksi kendaraan listrik di seluruh dunia, termasuk sembilan pabrik mobil lengkap di Tiongkok.

Selain itu, BYD telah mendirikan lima pabrik kendaraan listrik di Uzbekistan, Thailand, Brasil, Hongaria, dan Indonesia, yang menunjukkan pendekatan strategisnya terhadap ekspansi global dan lokalisasi di pasar-pasar utama di seluruh dunia. (CarNewsChina/Semut/JPNN)

Baca artikel lainnya… Sensasi Berkendara BYD Dolphin Jakarta – Bogor, Memuaskan!

Klaim Baterai LFP Paling Aman, BYD Belum Tertarik Pakai Nikel Indonesia

JAKARTA – Baterai mobil listrik menjadi perbincangan selama beberapa pekan terakhir. Pertanyaan itu mengemuka usai dibahas dalam debat calon wakil presiden (cavapres), Minggu (21/1/2024).

Saat itu, calon wakil presiden kedua, Gibran Rakabuming Raka, bertanya kepada wakil presiden pertama, Muhaimin Iskandar, yang tim suksesnya kerap membicarakan keunggulan baterai LFP (Lithium Iron Phosphate).

Menurut dia, hal itu mirip dengan produk pendukung asal China. Jibran mengatakan, melimpahnya bahan baku nikel di Indonesia harus digalakkan. Hal ini diyakini dapat meningkatkan perekonomian negara.

Baterai LFP tidak menggunakan nikel sebagai bahan bakunya karena menggunakan besi dalam strukturnya. Karena itu, baterai jenis ini memiliki biaya produksi yang lebih rendah dan diklaim lebih aman dibandingkan baterai berbahan nikel.

Saat ini BID merupakan salah satu produsen mobil listrik yang memproduksi dan menggunakan baterai LFP. Tiga mobil yang resmi diluncurkan di pasar Indonesia, Dolphin, Atto 3 dan Seal, menggunakan baterai LFP.

Kepala Pemasaran dan Komunikasi PT BID Motor Indonesia Luther T. Pandjaitan mengaku belum mau menjawab banyak soal penggunaan baterai LFP dan/atau baterai lithium-ion NCM (nikel, kobalt, mangan).

Saya tidak bicara materinya, tapi saya terima sepenuhnya. Saya sangat yakin sebagai merek EV terbesar di dunia, mereka melalui proses yang cukup lengkap. mekanismenya menjadi kendaraan,” ujar Luther kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Luther menegaskan, BID mempertimbangkan secara matang penggunaan baterai LFP pada setiap model mobil listrik. Ia mengatakan, baterai jenis ini memiliki keunggulan karena tidak mudah terbakar dibandingkan baterai nikel dan kobalt.

“Saat ini LFP masih paling aman, tapi pandangan kita tetap konsumen ya?” Namun, saya tidak tahu bagaimana perspektif masa depannya. Dan kalau di Indonesia masih pakai bahan (nikel) agak jauh (saya jawab) karena saya terima sudah mobil. “Mungkin pembahasannya harus G2G (goverment to goverment),” ujarnya.